Social Profiles

Minggu, 28 Oktober 2012

Turunkan Berat Badan, Bonusnya Gairah Seks Makin Meningkat



Kegemukan atau obesitas adalah masalah besar bagi wanita yang memuja penampilan. Untuk menurunkan berat badan, berbagai cara dan upaya pun dicoba. Jika berhasil, tak hanya penampilan saja yang berubah mempesona, melainkan gairah seksual juga semakin membara.

Pada awalnya penelitian menemukan bahwa wanita gemuk cenderung lebih sulit punya anak karena berkurang kesuburannya. Namun sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa melangsingkan badan tak terbukti dapat meningkatkan kesuburan, tetapi justru meningkatkan libido wanita.

"Obesitas pada wanita telah ditemukan berkaitan dengan menurunnya kemampuan ovulasi dan menyebabkan kemandulan. Obesitas, terutama yang berpusat di perut, juga berkaitan dengan kurangnya respon pemicu ovulasi dan menurunkan tingkat kehamilan," kata peneliti, dr Richard Legro seperti dilansir Daily Mail, Minggu (21/10/2012).

Tim peneliti dari Penn State College of Medicine ini berupaya mempelajari bagaimana operasi penurunan berat badan dapat mempengaruhi fungsi reproduksi wanita yang mengidap kegemukan tak sehat. Sampel urin para wanita diukur kadar hormonnya selama siklus menstruasi.

Peneliti terkejut mendapati tingkat ovulasi pada wanita gemuk tetap tinggi. Satu-satunya perubahan yang dialami wanita setelah berhasil menurunkan berat badan hanyalah pemendekan siklus menstruasi. Namun penelitian ini kemudian menghasilkan kesimpulan yang tak terduga.

Dalam laporan yang dimuat Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism, hasil kuesioner peserta menemukan bahwa penurunan berat badan lebih berdampak besar pada libido, yaitu meningkatkan keinginan dan gairah seksual. Para peneliti menduga bahwa hal ini dapat memicu para wanita jadi lebih sering melakukan hubungan seks.

"Faktor-faktor lain mungkin mempengaruhi kecenderungan berkurangnya kesuburan pada wanita obesitas, seperti menurunnya hasrat seksual sehingga lebih jarang berhubungan seksual," terang dr Legro.

Temuan ini sejalan dengan penelitian lain yang menemukan bahwa penurunan berat badan pada pria obesitas dapat meningkatkan gairah seksual. Penelitian yang dimuat Journal of Sexual Medicine menemukan bahwa penurunan berat badan sebanyak 5 persen akan meningkatkan kadar testosteron pria dan memperlama hubungan seks.

»»  BACA SELANJUTNYA

Seks Pasca Stroke, Mengapa Tidak?



Apakah seseorang yang mengalami stroke sehingga mengakibatkan kelumpuhan sebelah anggota tubuh tidak dibolehkan melakukan hubungan seks? Jawabannya: boleh, asalkan minum obat secara teratur.

Philippine Neurological Association (PNA) menjelaskan penderita stroke masih memiliki gairah untuk berhubungan seks. Aktivitas ini biasanya bisa dilakukan sebulan setelah serangan stroke, asalkan yang bersangkutan minum obat secara teratur. 

Presiden PNA, Dr Annette Bautista mengatakan alat kelamin seseorang tidaklah 'lumpuh' kendati yang bersangkutan mengalami stroke. Kecuali jika stroke yang dialami sangat parah dan mempengaruhi otak.

"Itunya (alat kelamin) tidak lumpuh. Dampak umumnya (pasca stroke) adalah psikologis. Ada yang berpikir mereka tidak bisa melakukan hubungan seks dengan baik, tapi itu tidak benar," kata Bautista dalam konferensi pers seperti dikutip dari business.inquirer.net, Kamis (25/10/2012).

"Hal ini tidak benar-benar terpengaruh, kecuali kalau mengalami stroke besar, seperti di seluruh sisi kiri otak, dan Anda tidak dapat lagi berbicara kepada pasien karena dia tidak lagi mengerti," imbuh dia.

Bautista mengatakan kemungkinan penderita stroke mengalami insiden lain saat bercinta masih tinggi. Tapi kalau di tengah aktivitas bercintanya dia meminum obatnya, maka aman-aman saja.

"Kemungkinan mengalami stroke lain setelah stroke pertama cukup tinggi. Katakanlah untuk penduduk pada umumnya, sekitar 20 persen. Dan kemungkinan itu naik 50 persen jika memiliki riwayat stroke," sambungnya.

"Lalu apakah seks dilarang untuk mereka? Tidak, seks tidak kontraindikasi dengan pasien stroke. Dorongan seksual biasanya tidak terpengaruh, terutama bagi laki-laki. Dorongan seksual dan keinginan masih ada," lanjut Bautista.

Dijelaskannya, seks tidak akan kontraindikasi selama tekanan darah dikendalikan. Karena itu jangan lupakan obatnya, sebab sistem syaraf saat aktivitas seksual terjadi akan membuat tekanan darah meningkat dan mempercepat detak jantung. "Itu normal dalam hubungan seks," ucap Bautista.

Jika pasien stroke secara teratur minum obat dan menjaga tekanan darahnya, maka kondisinya tidak akan berbahaya. Bautista menerangkan banyak orang Filipina mengalami stroke karena jika tahu tekanan darahnya sudah normal, mereka lantas berhenti minum obat. Padahal seharusnya tidak demikian.

Menurutnya pasien stroke perempuanlah yang lebih terpengaruh secara psikologis dan khawatir kondisinya memburuk jika berhubungan seks. "Perasaan mereka seperti 'Saya sudah tua dan tidak dapat lagi melakukannya. Saya tidak akan mengalami orgasme'. Padahal ini tidak benar-benar seperti itu. Itu lebih karena psikologis," tutur Bautista.

Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) dalam situsnya merilis umumnya ada sedikit banyak gangguan fungsi seksual pasca stroke. Misalnya seperti gangguan ereksi atau ejakulasi (pada pria) serta berkurangnya kebasahan vagina dan menurunnya kepekaan alat kelamin (pada wanita). Namun gangguan ini tidak selalu sama.

Untuk itu saat penderita stroke melakukan hubungan seksual, Yastroki menyebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Perilaku yang mengalami perubahan tergantung pada kerusakan otak

Adanya kerusakan pada otak kanan akan menyebabkan yang bersangkutan impulsif atau kaku sehingga mengganggu fungsi seksual. Saat terjadi hal ini, maka perlu menambah konsentrasi.

Jika yang mengalami kerusakan adalah otak kiri, maka yang bersangkutan akan menjadi sangat berhati-hati dalam berhubungan seks. Sehingga terkesan yang bersangkutan ragu-ragu dan menjadi sangat lambat gerakannya. Untuk itu, pasangannya perlu memberi semangat untuk membantu pasien stroke meningkatkan keberaniannya dalam bercinta.

2. Adanya perubahan emosi yang cepat

Karena pasien stroke memiliki perubahan emosi yang cepat, maka pasangan jangan menanggapinya sebagai sesuatu yang bersifat pribadi. Konsultasikan pada para ahli bila muncul depresi gairah seks.

3. Kelumpuhan atau kehilangan rasa dapat mengganggu kegiatan seks

Saat bagian-bagian tubuh tak lagi sesensitif dulu sebelum terserang stroke, jangan putus asa mencari bagian tubuh yang masih sensitif. Selain itu patut dicoba merangsang bagian tubuh yang kehilangan sensitivitasnya. Berikanlah waktu yang lebih lama saat perangsangan. Dengan demikian, diharapkan sensasi di bagian tubuh yang kehilangan sensitivitas bisa muncul lagi.

4. Menggunakan posisi bercinta yang menyenangkan

Perlu mengeksplor posisi bercinta seperti apa yang menyenangkan keduanya dengan konsisi salah satu pasangan adalah pasien stroke. Dengan posisi yang paling cocok dan nyaman maka tidak akan mengurangi keleluasaan gerak. Jika sang suami adalah pasien stroke, maka peran istri untuk lebih aktif di ranjang tentu lebih dibutuhkan. Demikian pula sebaliknua.

5. Kejang otot mungkin terjadi sewaktu berhubungan seks

Kejang otot saat bercinta mungkin terjadi. Terkadang memang menakutkan, akan tetapi tidak berbahaya, sehingga aktivitas seks dapat terus dilanjutkan.

6. Pada keadaan tertentu bisa menggunakan vibrator

Alat bantu seks bisa digunakan dalam keadaan tertentu asal dengan petunjuk dokter. Selain itu bacaan atau tontonan yang merangsang bisa dicoba sebelum memulai hubungan seks.

Jadi, berhubungan seks pasca stroke sama sekali tidak dilarang. Kamar yang nyaman dan tenang adalah hal yang juga harus diperhatikan saat pasien stroke akan bercinta. Selain itu peran pasangan sangat dibutuhkan. Pasangan harus sabar, penuh kasih sayang, dan selalu memberi semangat pada pasien stroke.

Namun penderita stroke sebaiknya tidak melakukan hubungan seks apabila sedang banyak makan, capai, atau takut.

»»  BACA SELANJUTNYA

Wow, Pasangan Tak Ganteng, Wanita Cenderung Dingin Saat Subur!



Bagi wanita, memilih pasangan hidup harus mempertimbangkan banyak faktor. Ada yang memilih pria mapan, ada juga memilih pria tampan. Pemilihan pendamping hidup ini ternyata dapat berdampak pada perilaku wanita yang khas ketika masa subur.

Wanita yang memilih pria mapan ketimbang yang tampan cenderung menjaga jarak dan kritis kepada pasangan saat sedang subur-suburnya. Namun wanita yang memilih pria tampan atau menarik secara seksual, sikap cerewet dan menyendiri ini tidak ditemukan saat masa subur.

Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa wanita lebih tertarik dan lebih besar kemungkinannya menikah dengan pria yang mapan ketimbang pria yang tampan. Tujuannya untuk memastikan keturunannya aman dan hidup sejahtera. Namun penelitian terbaru menemukan bahwa pilihan ini justru menjadi blunder saat masa-masa penting dalam menghasilkan keturunan.

"Seorang wanita mengevaluasi hubungannya secara berbeda pada waktu yang berbeda pula dalam siklus menstruasinya. Evaluasinya ini tampaknya juga diwarnai oleh seberapa menarikkah dia memandang pasangannya secara seksual," kata peneliti, Martie Haselton, seperti dilansir Medical Daily, Jumat (26/10/2012).

Para peneliti mengamati siklus ovulasi 41 wanita sarjana yang tengah membina hubungan jangka panjang dengan seorang pria. Peserta diminta menilai daya tarik seksual pasangannya. Peserta juga diminta menjawab pertanyaan yang dirancang untuk mengukur stabilitas atau kecocokan pasangan untuk jangka panjang.

Tak hanya itu, kondisi keuangan pasangan saat ini dan di masa depan juga dibandingkan dengan kebanyakan pria. Peneliti kemudian meminta para wanita melaporkan kualitas dan keadaan hubungannya pada 2 periode yang berbeda dalam siklus menstruasinya, yaitu saat tepat menjelang ovulasi di mana kondisinya paling subur dan saat kondisinya kurang subur.

Hasil penelitian yang dimuat jurnal Hormones and Behavior menunjukkan bahwa wanita yang pasangannya kurang tampan atau kurang menarik rata-rata mengaku keintimannya berkurang dan lebih cuek kepada pasangan saat masa subur. Tapi hal sebaliknya justru dialami wanita yang memiliki pasangan yang tampan atau sesuai dengan keinginan seksualnya.

Para peneliti lantas mengulangi percobaan ini kepada 67 orang peserta lain. Kali ini para peserta diminta membuat daftar hal yang menjengkelkan dari pasangan seperti murung, kekanakan dan sembrono. Ternyata wanita yang pasangannya kurang seksi lebih dapat mengenali sifat buruk pasangan ketika sedang subur dibandingkan saat tidak subur.

Para peneliti menduga kecenderungan sifat wanita yang berubah-ubah ini berasal dari strategi kawin akibat proses evolusi. Ada kemungkinan wanita berevolusi untuk tertarik pada ketampanan pria karena dulu terbukti merupakan indikator gen yang baik. Wanita yang tertarik pada fitur ini bisa menghasilkan keturunan yang lebih sukses menarik pasangan dan memperbanyak keturunan.

Namun Haselton yang merupakan seorang profesor psikologi di University of California, Los Angeles ini mengatakan bahwa sifat dingin atau uring-uringan ini hanya bersifat sementara dan tidak mempengaruhi komitmen jangka panjang. Meskipun mungkin menimbulkan sedikit gangguan, hubungan keduanya tak akan berakhir begitu saja.

»»  BACA SELANJUTNYA

1 Dari 6 Pelukan akan Menjurus ke Seks



Berpelukan merupakan tanda keintiman dan kedekatan yang bisa dilakukan antar pasangan, teman, maupun orang tua dengan anaknya. Pada pasangan, pelukan yang mesra lama-lama dapat mengarah ke aktivitas seksual. Namun kemungkinannya tidak begitu besar, hanya 1 dari 6 pelukan yang lantas mengarah ke seks.

Bagi pasangan suami istri, bisa jadi ini kabar yang cukup mengecewakan sebab kemungkinannya beranjak ke adegan intim cukup kecil. Sedangkan bagi pasangan belum menikah, ada baiknya mulai menghindari berpelukan sebab tindakan ini dapat menjurus ke seks pra nikah yang berisiko.

Para peneliti menemukan bahwa kegiatan berpelukan cenderung digunakan sebagai sesi curhat atau membahas kejadian di hari sebelumnya. Keintiman yang muncul akibat memegang pasangan erat-erat bermanfaat untuk memperkuat ikatan. Bahkan peneliti menemukan bahwa pasangan yang sering berpelukan kehidupan seksnya lebih baik.

Dalam laporan yang diterbitkan jurnal Archives of Sexual Behavior, peneliti menemukan bahwa rata-rata pasangan melakukan pelukan sebanyak 8 kali dalam seminggu. Setiap aktivitas pelukan berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Tempat yang paling sering digunakan untuk berpelukan adalah sofa, kursi dan tempat tidur. Wanita cenderung lebih suka dipeluk ketimbang pria.

Para peneliti dari University of Michigan menanyai 514 orang pria dan wanita yang sedang menjalin hubungan asmara mengenai seberapa sering, seberapa lama dan bagaimana caranya kedua pasangan bisa sampai berpelukan. Para peserta juga ditanya tentang apa yang dilakukan ketika berpelukan dan kapan waktunya.

Berpelukan oleh peneliti didefinisikan sebagai kontak fisik yang penuh kasih tanpa melibatkan perilaku seksual dan bagian tubuh yang tersentuh lebih banyak, bukan hanya tangan atau bibir saja. Temuan menunjukkan bahwa rata-rata peserta berpelukan selama 47 menit 36 detik. Malam adalah waktu favorit yang paling banyak digunakan untuk berpelukan.

Peneliti juga menemukan bahwa pasangan paling sering berpelukan sambil menonton film atau TV. Aktivitas selingan favorit lainnya adalah mengobrol, memijat, mendengarkan musik atau membaca. Di antara seluruh peserta penelitian, hanya ada 1 dari 6 peserta yang mengaku kegiatan pelukannya kemudian diikuti oleh aktivitas seks.

Kesemua peserta merasa diayomi, dilindungi dan rileks setelah berpelukan. Peserta juga jarang menyebutkan seks ketika ditanya apa yang dirasakan atau diinginkan selama berpelukan. Yang paling banyak dirasakan adalah berbicara mengenai kedekatan, cinta, keintiman dan kenyamanan.

"Data ini mendukung harapan kami bahwa memeluk dianggap sebagai perilaku mengayomi dan non seksual. Peserta mengaku merasa terlindungi dan rileks setelah berpelukan. Mereka jarang membicarakan hal mengenai seks selama berpelukan, tapi malah merasakan hal-hal seperti cinta, keintiman, kedekatan, dan kenyamanan," kata peneliti Dr Sari van Anders seperti dikutip dari Medical Daily

»»  BACA SELANJUTNYA

5 Hal Seputar Kanker Payudara yang Kerap Disalahpahami



Kanker payudara tidak hanya menyerang kaum perempuan, tetapi juga kaum laki-laki. Karena itu tidak ada salahnya jika perempuan dan laki-laki sama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Apalagi banyak mitos dan kesalahpahaman seputar kanker payudara.

Dr Ann Chambers, peneliti asal kanada yang juga profesor onkologi di University of Western Ontario menjelaskan lima hal yang kerap disalahpahami masyarakat terkait kanker payudara. Berikut ini kelima hal tersebut, seperti dikutip dari ctvnews.ca pada Selasa (22/10/2012):

1. Risko kanker payudara tak dipengaruhi jumlah anak yang dimiliki

"Sejarah reproduksi seorang wanita berhubungan yang sangat kuat dengan risikonya terkena kanker payudara," kata Dr Chambers kepada CTV News Channel.

Jika seorang perempuan memiliki anak saat masih muda, maka risiko terkena kanker payudaranya kecil. Namun bagi yang tidak memiliki anak, risiko terkena kanker payudara masih menghantui.

"Jika Anda menyusui untuk waktu yang lama, risiko Anda lebih rendah. Jadi itu adalah situasi hormonal yang kompleks," ujar Dr Chambers.

2. Berat badan mempengaruhi risiko penyakit jantung, bukan risiko kanker payudara

Obesitas memang kerap dikaitkan dengan penyakit jantung dan diabetes. Selain itu obesitas juga ditengarai berkaitan dengan berbagai penyakit kanker, termasuk kanker payudara.

"Menjaga berat badan yang sehat, makan makanan yang sehat dan berolahraga adalah semua hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko," ucap Dr Chambers.

3. Jika mammogram saya bersih, maka saya baik-baik saja

Mammogram atau rontgen payudara masih dipercaya sebagai cara terbaik untuk mendeteksi dini sel kanker payudara. Namun ada baiknya Anda juga memeriksa kondisi payudara Anda sendiri, sebab bukan tidak mungkin mammogram tidak bisa mendeteksi kanker karena berkembang di antara jadwal pemeriksaan mammogram.

4. Mengonsumsi kedelai meningkatkan risiko kanker payudara

"Ada bukti kedelai bisa meningkatkan atau menurunkan risiko kanker payudara," ucap Dr Chambers.

Namun bukti yang ada kurang kuat untuk mendukung seseorang mengonsumsi kedelai demi menghindari kanker payudara. Pun tidak ada bukti kuat yang merekomendasikan seseorang untuk tidak makan kedelai demi kesehatan payudaranya. Tetapi makan kedelai dalam jumlah yang tidak berlebihan tidak akan memberikan dampak.

5. Didiagnosa kanker payudara sama artinya divonis mati

"Sejak 1980-an, kematian akibat kanker payudara menurun sekitar 40 persen," kata Dr Chambers.

Menurut dia hal ini karena dua faktor. Pertama, skrining mammografi telah menemukan adanya tumor yang bersarang di payudara sejak dini, sehingga bisa segera diobati. Kedua, karena penanganan yang baik.

"Ketika sel kanker sudah menyebar di luar kelenjar getah bening ke organ lain, maka akan lebih sulit untuk mengobatinya," sambung Dr Chambers.

»»  BACA SELANJUTNYA

Ternyata Di Bawah Kulit Jeruk Banyak Anti Kanker!



Kebanyakan orang biasanya akan membersihkan jeruk dari serabut dan daging kulit yang berwarna putih sebelum memakannya agar lebih terasa manis. Tetapi bagian yang Anda singkirkan tersebut justru memiliki manfaat super untuk mencegah obesitas dan bahkan kanker.

Jeruk dikenal sebagai buah yang kaya akan nutrisi sehat seperti vitamin C dan berdasarkan penelitian terbaru, jeruk juga mengandung senyawa flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu substansi antioksidan kuat dan dapat melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas penyebab kanker.

Meskipun buah jeruk itu sendiri telah mengandung flavonoid, tetapi konsentrasi flavonoid tertinggi terkandung dalam kulitnya. Anda dapat memperoleh kadar tinggi antioksidan dari jeruk dengan menambahkan kulit jeruk ke dalam bumbu masakan.

Anda masih dapat memperoleh kadar tinggi flavonoid dengan menyisakan sedikit daging putih dalam kulit jeruk ketika mengupasnya dan tidak membersihkan serabut-serabut putih yang menyelimuti buah jeruk.

Salah satu zat yang paling bermanfaat dalam senyawa flavonoid adalah naringenin, yang terdapat dalam semua buah jeruk dan tomat. Penelitian telah menunjukkan bahwa naringenin pada jeruk dapat memperbaiki kerusakan DNA yang dapat berkembang menjadi kanker.

Studi lainnya juga telah menunjukkan bahwa fitonutrisi seperti naringenin dalam jeruk dapat merangsang pembakaran lemak yang berlebih. Studi tersebut menggunakan tikus sebagai obyek penelitian dan tikus yang obesitas dapat kembali ke berat badan normalnya setelah diberi asupan naringenin.

Seperti dilansir dari naturalnews, Kamis (18/10/2012) naringenin juga menyebabkan trigliserida dalam jeruk berada pada tingkat normal, sehingga dapat memulihkan kadar gula darah yang sehat.

Ada manfaat obat dalam setiap buah jeruk, sehingga nikmatilah buah sehat ini tanpa mengupas bersih kulit dan serabutnya.

»»  BACA SELANJUTNYA

Aborsi Bikin Peluang Kanker Payudara Meningkat?



Ada berbagai faktor yang dapat meningkatkan peluang risiko kanker payudara, salah satunya genetik dan gaya hidup yang tak sehat. Tapi sebuah studi menyebutkan bahwa aborsi atau pengguguran kehamilan juga dapat membuat perempuan dikejar risiko kanker payudara.

Kanker payudara merupakan masalah kesehatan yang kasusnya terus meningkat di seluruh dunia. Untuk menyebarkan kesadaran tentang penyakit berbahaya ini, perempuan di seluruh dunia pun mengenakan pita merah muda sepanjang bulan Oktober.

Ada dua jenis kanker payudara, yaitu Ductal carcinoma yang dimulai dalam tabung (saluran) dan Lobular carcinoma yang dimulai di bagian payudara (lobules). Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari usia, riwayat keluarga, siklus menstruasi yang tidak tepat, konsumsi alkohol yang berlebihan.

Hipotesis Abortion Breast Cancer (ABC) mengemukakan bahwa aborsi juga dapat menyebabkan kanker payudara. Ini karena ketika seorang wanita hamil, produksi estrogen (hormon wanita) meningkat. Peningkatan kadar estrogen inilah yang menyebabkan payudara semakin membesar. Proses laktasi dimulai dan ASI pun mulai terbentuk di payudara.

Namun jika Anda 'membatalkan' proses tersebut pada tahap pengembangan dengan jalan aborsi, penelitian mengatakan bahwa kemungkinan menderita kanker payudara semakin meningkat, seperti dilansir Boldsky, Senin (22/10/2012).

Dalam kasus-kasus terburuk, jika Anda melakukan aborsi pada trimester kedua atau ketiga, kemungkinan terkena kanker payudara menjadi lebih tinggi. Banyak peneliti dan studi sepakat dengan hipotesis aborsi dan kanker payudara ini.

Namun, sebuah studi pada tahun 1997 dalam New England Journal of Medicine membantah ABC dan melakukan survei terbesar pada kanker payudara. Dengan 1,5 juta peserta, New England Journal of Medicine berkesimpulan bahwa tidak ada hubungan independen antara kanker payudara dan aborsi.

Terlepas dari benar tidaknya hipotesis tersebut, setiap perempuan memang berisiko menderita kanker payudara bila menjalani pola hidup yang tidak sehat. Ancaman tersebut bahkan juga merembet pada kaum pria.

Saat ini kanker payudara masih menempati urutan kedua terbanyak yang diderita oleh kaum perempuan setelah kanker serviks (leher rahim). Karena itu penting bagi perempuan untuk bisa mengenali lebih dini ciri-ciri dari kanker payudara, sehingga jika ditemukan dalam stadium awal kesempatan untuk sembuhnya masih tinggi.

Salah satu cara untuk deteksi awal kanker payudara adalah dengan melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) yang dilakukan seminggu setelah menstruasi.

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) adalah melakukan beberapa hal berikut:

1. Perhatikan payudara dengan posisi kedua tangan di atas kepala kemudian kedua tangan di pinggang.

2. Angkat tangan kiri ke atas kepala.

3. Gunakan permukaan jari yang rata untuk meraba atau menekan payudara serta pastikan untuk menyentuh seluruh bagian payudara. Pola yang digunakan bisa dengan gerakan arah memutar, gerakan arah naik dan turun atau arah keluar dan masuk area putting. Usahakan menggunakan gerakan yang sama setiap bulannya.

4. Menekan setiap puting dengan lembut dan memperhatikan apakah ada cairan yang keluar.

5. Memeriksa daerah antara payudara dan ketiak serta payudara dan tulang dada sambil berbaring.

6. Mengulangi semua langkah tersebut untuk payudara yang sebelah kanan.

»»  BACA SELANJUTNYA