Social Profiles

Jumat, 30 November 2012

9 Hal Seputar Kondom Pria yang Paling Sering Ditanyakan



Kondom merupakan alat kontrasepsi yang juga untuk mencegah penularan penyakit kelamin pada saat bersenggama. Kendati alat ini familiar bagi masyarakat lantaran banyak ditemui di pasaran, namun masih banyak pertanyaan seputar kondom.

Berikut ini pertanyaan tentang kondom laki-laki yang sering ditanyakan beserta jawabannya, seperti dikutip dari health.india.com, Selasa (20/11/2012):

1. Siapa yang Harus Menggunakan Kondom?

Semua pria yang tidak ingin buru-buru punya anak perlu menggunakan kondom saat berhubungan seks. Kondom juga meminimalkan risiko seseorang tertular penyakit-penyakit lewat hubungan seksual (sexually transmitted diseases atau STD), termasuk HIV-AIDS. 

2. Kapan Harus Menggunakan Kondom?

Kapanpun seseorang akan melakukan aktivitas seks, baik itu secara oral, anal, maupun vaginal, kondom perlu digunakan. Gunakan kondom yang berbeda untuk setiap aktivitas seks.

3. Mengapa Harus Menggunakan Kondom?

Sejauh ini kondom adalah alat kontrasepsi yang paling efektif yang pernah diciptakan. Sebenarnya kondom sudah ada sekitar 400 tahun ini, namun baru populer sekitar tahun 1930-an.

Kondom penting digunakan untuk menghindari HIV dan penularan penyakit seksual lainnya. Jika digunakan dengan benar, kondom memiliki tingkat keberhasilan 97 persen untuk mencegah kehamilan. Selain itu kondom juga tidak memiliki efek samping seperti gangguan hormon atau kenaikan berat badan bagi penggunanya.

4. Bagaimana Cara Memakai Kondom?

Pegang ujung kondom dan pasang saat penis ereksi. Pastikan gulungan kondom berada di sisi luar lalu bukalah uraiannya. Saat membuka kondom, gunakan jempol dan telunjuk tangan kanan ke arah pangkal penis agar kondom terpasang dengan benar.

Pastikan ujung kondom berada di puncak penis lalu tekanlah dengan jempol dan telunjuk tangan kiri agar udara tidak ikut masuk ke dalam kondom. Sebab adanya udara di dalam kondom bisa merusak kondom.

Hati-hati pula saat membuka kondom dari kemasan agar tidak robek. Perhatikan pula tanggal kedaluwarsa kondom.

5. Benarkah Kondom Mengurangi Kenikmatan?

Pemakaian kondom yang mengurangi kenikmatan sudah sering didengar, sehingga menjadi alasan banyak orang untuk tidak menggunakan kondom. Namun sebenarnya kenikmatan itu berbeda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lain, dan tergantung pada kondisi masing-masing.

Untuk meningkatkan kenikmatan pemakai kondom, perusahaan kondom melakukan berbagai inovasi. Misalnya mereka memproduksi kondom dengan titik-titik, bergaris-garis, atau kondom super tipis.

6. Benarkah Pria Sulit Mempertahan Ereksi Saat Memakai Kondom?

Beberapa orang memang merasa sulit untuk mempertahankan ereksi atau ejakulasi dengan kondom. Masalah ini dapat diatasi dengan berlatih. Hanya karena tidak bisa mempertahankan ereksi atau ejakulasi saat memakai kondom tidak berarti Anda tidak akan pernah bisa melakukannya. Yang Anda butuhkan adalah kesabaran dan sedikit latihan. Kondom tersedia dalam berbagai ukuran dan bentuk, sehingga Anda bisa memilih yang paling pas untuk Anda.

7. Terbuat Dari Apakah Kondom Itu?

Kondom biasanya dibuat dari lateks meskipun kadang-kadang dibuat juga dari bahan-bahan seperti polyurethane, poliisoprena dan bahkan kulit domba. Meskipun lateks adalah bahan pembuat kondom yang paling populer, namun beberapa orang yang alergi terhadap lateks (kurang dari 1 persen) mungkin mengalami ruam dan lecet. Dalam kasus yang parah bisa mengakibatkan pembengkakan bibir, tenggorokan, dan lidah yang mengarah ke gangguan pernapasan, sehingga memerlukan penanganan medis.

8. Dapatkah Menggunakan Pelumas Saat Pakai Kondom?

Kondom yang terbuat dari lateks jangan pernah digunakan bersama dengan pelumas berbahan minyak karena bisa merusak kondom. Pelumas berbahan minyak ini misnyalnya 
petroleum jelly (Vaseline), cold cream, hand lotion atau baby oil. Yang aman, gunakanlah pelumas berbahan air.

9. Apa yang Harus Dilakukan Setelah Ejakulasi?

Tariklah penis perlahan-lahan segera setelah ejakulasi sambil memegang bagian bawah kondom. Setelah itu, buanglah kondom di tempat sampah. Jangan dibuang ke dalam toilet atau dilempar sembarangan ke jalanan

»»  BACA SELANJUTNYA

Kamis, 29 November 2012

Makanlah Tahu Agar Anda Makin 'Hot' di Ranjang



Tahu bisa dikatakan salah satu sumber protein yang paling terkemuka disamping tempe atau susu. Manfaatnya sangat besar untuk perbaikan gizi karena kualitas protein (nabati) pada bahan dasarnya, kedelai adalah yang terbaik di antara bahan makanan lainnya. Tapi siapa sangka jika tahu punya potensi lain yaitu meningkatkan kualitas kehidupan seks seseorang.

Bahkan peneliti mengklaim orang yang rutin mengonsumsi tahu punya kehidupan seks yang lebih baik ketimbang orang yang suka makan daging.

Secara khusus peneliti dari Department of Environmental Science, Policy and Management, UC Berkeley ini mengaku menemukan bahwa produk nabati tertentu dapat mempengaruhi kadar hormon seksual sekaligus meningkatkan aktivitas seksual seseorang.

Bisa dibilang inilah studi pertama yang mengamati kaitan antara senyawa estrogenik berbasis tumbuhan atau fitoestrogen dengan perilaku primata liar. Dalam studi ini, peneliti menggunakan sekelompok red colobus monkeys di Uganda.

Namun sebagai primata, manusia juga dianggap akan cenderung mengalami efek yang sama dari senyawa tersebut.

"Inilah studi pertama yang menggunakan setting alami dan memberikan bukti bahwa senyawa yang ada pada tumbuhan ternyata dapat memberikan pengaruh langsung terhadap fisiologi dan perilaku primata liar lewat sistem endokrin primata tersebut," ungkap Michael Wasserman yang memimpin studi ini.

"Dengan mengubah kadar hormon dan perilaku sosial yang krusial bagi kesehatan secara menyeluruh dan kesehatan reproduksi, ternyata tumbuhan dapat memainkan peranan yang luar biasa dalam evolusi biologi primata, termasuk manusia dengan cara-cara yang selama ini tak disadari," terangnya seperti dikutip dari medindia, Rabu (21/11/2012).

Terhitung selama 11 bulan, Wasserman dan timnya mengamati sekelompok red colobus monkeys yang ada di Kibale National Park, Uganda dan merekam apa saja yang mereka makan.

Khusus untuk pengamatan perilaku, peneliti terfokus pada perilaku agresi primata yang ditandai dengan frekuensi kejar-kejaran atau pertengkaran, perkawinan dan waktu yang dihabiskan si primata untuk merawat diri (grooming).

Tak lupa peneliti juga mengumpulkan sampel kotoran kera-kera itu untuk mengetahui perubahan kadar hormon dalam tubuhnya.

Ternyata semakin banyak dedaunan Millettia dura, salah satu jenis pohon tropis yang mengandung senyawa mirip estrogen yang dimakan red colobus monkeys maka semakin tinggilah kadar estradiol dan kortisol di dalam tubuh primata tersebut.

Uniknya, perubahan hormon itu mendorong lebih banyaknya perilaku agresif dan seks pada si primata, termasuk berkurangnya waktu yang dihabiskan si primata untuk grooming sebagai salah satu perilaku penting sekaligus indikator ikatan sosial antarprimata.

Usut punya usut, ternyata pohon tropis itu masih memiliki kekerabatan dekat dengan kedelai. Lagipula kedelai juga dikatakan memiliki kadar fitoestrogen yang tinggi. Itulah mengapa mengonsumsi produk-produk kedelai, terutama tahu dan tempe dapat meningkatkan kualitas kehidupan seksual seseorang.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Hormones and Behavior.

»»  BACA SELANJUTNYA

Makan Bayam dan Tahu Bersamaan Bisa Picu Kista, Benarkah?



Bayam dan tahu termasuk sumber nutrisi terbaik yang mudah didapatkan dalam keseharian. Namun beredar informasi yang mengatakan bahwa mengonsumsi keduanya secara bersamaan bisa memicu kista pada organ reproduksi perempuan. Benarkah demikian?

"Bayam dan tahu? Enggak ah, setahu saya nggak ada hubungannya tuh (dengan kista)," kata Dr Damar Prasmusinto, SpOG, ahli kandungan yang berpraktik di RS Brawijaya mengomentari informasi tersebut, saat dihubungi detikHealth, Kamis (29/11/2012).

Menurut Dr Damar, umumnya ada 2 penyebab kista yang sering dijumpai dan keduanya sangat jarang berhubungan dengan makanan. Penyebab yang pertama adalah bawaan lahir, sedangkan yang kedua adalah endometriosis atau pertumbuhan yang tidak normal di lapisan endometrium.

Makanan bisa juga menjadi penyebab gangguan organ reproduksi perempuan, namun biasanya berhubungan dengan junk food atau makanan tidak sehat. Kandungan hormon yang sering ditemukan dalam junk food diyakini bisa memicu Polycystic Ovary Syndrome atau PCOS.

"Kalau makanan, ya paling junk food itu bisa memicu PCOS. Atau endometriosis juga bisa, tapi itu hubungannya lebih ke penggunaan dioxin. Bahan itu sering diberikan waktu menanam sayuran, supaya lebih segar. Tapi kalau bayam yang benar ya nggaklah," tambah Dr Damar.

Informasi menyesatkan yang mengatakan bahwa makan bayam dan tahu secara bersamaan bisa menyebabkan kista beredar melalui broadcast mesage. Bunyi broadcast message itu selengkapnya adalah sebagai berikut:

Penting bagi wanita !!
Tidak disarankan makan bayam & tahu bersamaan,
karna jika digabungkan akan membentuk senyawa yg bisa mengakibatkan terbentuknya batu / kista dalam tubuh.
Hasil penelitian Prof. Dr. Asbudi,SPOG
Jangan makan timun saat haid karna bisa menyebabkan darah haid tersisa di dinding rahim, setelah 5-10 hari dapat menyebabkan kista &kanker rahim.
Alangkah baiknya bila info ini disebarkan ke banyak wanita sebagai tanda kepedulian kita terhadap sesama.
Jika pria yang menerima bbm ini, tolong di teruskan kepada rekan wanitanya.

Lebih lanjut Dr Damar mengatakan, informasi bahwa makan timun saat haid bisa menyebabkan kista dan kanker juga tidak masuk akal. Umumnya, keganasan kanker pada organ reproduksi perempuan lebih banyak dipicu oleh infeksi misalnya Human Papilloma Virus (HPV).

"Saya juga belum pernah dengar tuh, Prof Dr Asbudi, SpOG itu siapa ya?" tandas Dr Damar.

»»  BACA SELANJUTNYA

Survei: Kebanyakan Remaja Mengenal Seks dari Teman-temannya



Semakin banyaknya kasus kehamilan di usia dini dan perilaku seks bebas di kalangan remaja disebabkan oleh kurangnya pendidikan seks. Sebuah survei menyatakan bahwa kasus ini meningkat karena kebanyakan remaja belajar tentang seks dari teman-temannya dan bukan dari keluarganya.

"Fakta bahwa orang tua tidak terlibat dengan pendidikan seks terhadap anak-anaknya telah menjadi perhatian besar, mengingat betapa banyaknya kasus seks bebas yang terjadi di kalangan remaja," kata Tewodros Melesse, Direktur International Planned Parenthood Federation (IPPF) dalam sebuah pernyataan yang dilansir Health24, Rabu (28/11/2012).

Berdasarkan survei yang dilakukan IPPF terhadap 7662 orang yang terbagi ke dalam dua kelompok usia yaitu 16 sampai 24 tahun dan usia 25 sampai 34 tahun. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 38 persen remaja mengaku mendapatkan informasi dan belajar seputar seks dari teman-teman sebayanya.

Sebanyak 19 persen peserta survei menyatakan bahwa dirinya belajar tentang seks melalui televisi dan media lainnya seperti majalah. Sekitar 18 persen mengaku mendapatkan pendidikan tentang seks dari pelajaran sekolah, yang mengarah ke seks sehat dan himbauan untuk menghindari seks bebas.

14 Persen peserta menyatakan bahwa informasi tentang seks diperolehnya dari akses internet. Sedangkan 4 persen sisanya, mendapatkan pendidikan seks melalui keluarganya. Hal ini cukup memprihatinkan ketika anak-anak dan remaja mengenal seks dari orang lain atau dari media lain tanpa adanya pengawasan dari orang tua.

"Anak-anak dan remaja sebenarnya membutuhkan pendidikan seks mulai dari lingkungan keluarga, agar orangtua mampu memberikan pengarahan terhadap mana yang baik dan mana yang harus dihindari, mengajarkan tentang kesehatan seksual, dan perilaku yang bertanggung jawab," kata Melesse.

Keluarga yang tidak membentengi anaknya dengan pendidikan seks, membuat anak-anak mencari tau sendiri tentang seks. Di usia yang sangat muda, remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga pendidikan yang kurang dapat memicu keinginan untuk sekadar coba-coba soal seks.

Akibatnya terjadilah perilaku seks yang tidak bertanggung jawab di usia muda hingga terjadi seks bebas yang berbahaya terhadap risiko kehamilan dini dan penularan penyakit menular seksual. Sebuah survei lain menyatakan bahwa sekitar 12 persen remaja yang tidak memiliki latar belakang pendidikan seks yang kuat, telah berhubungan seks di usia di bawah 14 tahun.

Sedangkan sekitar 22 persen remaja yang terlibat dalam survei tersebut telah melakukan hubungan seks antara usia 14 sampai 16 tahun. Kemudian sisanya sebanyak 37 persen melakukan hubungan seks pertama kali di usia lebih dari 16 tahun.

Hal ini tidak hanya terjadi pada remaja yang hidup di perkotaan saja yang identik dengan pergaulan bebas, perhatian keluarga yang kurang, dan arus informasi yang mengalir deras dari berbagai media. Remaja yang tinggal di pedesaan pun banyak yang terjerumus untuk melakukan hubungan seksual di usia muda karena kurangnya informasi dan pendidikan tentang seks.

Oleh karena itu, peran orangtua dituntut untuk membekali anak dan remaja tentang pendidikan seks yang sehat. Setelah itu pendidikan seks di sekolah perlu ditingkatkan, pengarahan terhadap media yang tepat, dan yang terakhir adalah pengarahan agar remaja lebih berhati-hati dalam bergaul dengan teman-temannya.

»»  BACA SELANJUTNYA

Ini yang Dirasakan Pria Gemuk Ketika Berhubungan Seks



Kegemukan atau obesitas tidak hanya dapat meningkatkan risiko terhadap berbagai penyakit, tetapi dapat pula mengacaukan hubungan seksual Anda. Pria yang mengalami kegemukan dapat menemui berbagai masalah di tempat tidur.

Seperti dilansir OnlyMyHealth, Jumat (23/11/2012), berikut bebeprapa pengaruh kegemukan pada pria terhadap hubungan seksualnya:

1. Kurang percaya diri
Mencemaskan kinerja ketika bercinta dan cenderung rendah diri di depan pasangan adalah masalah besar yang sering dirasakan oleh pria yang mengalami kegemukan. Ketidakpuasan terhadap keadaan fisik diri sendiri dapat menimbulkan efek negatif pada sisi psikologis.

Padahal kepercayaan diri sangat diperlukan dalam hubungan seksual yang berkualitas. Selain itu, gangguan psikologis seperti stres, rendah diri, dan sebagainya juga diketahui berpengaruh terhadap penurunan gairah seksual.

2. Diliputi kecemasan tidak dapat memuaskan pasangan
Pria yang mengalami kegemukan biasanya akan merasa khawatir apakah pasangannya baik-baik saja dan merasa nyaman ketika berhubungan seksual dengannya. Alasan terhadap kecemasan ini adalah tentu saja karena menyadari bahwa dirinya mungkin terlalu berat untuk pasangannya.

3. Berisiko disfungsi ereksi
Penyebab terbesar disfungsi ereksi adalah karena terhambatnya aliran darah ke penis, yang dapat disebabkan karena kondisi seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan obesitas, yang merupakan faktor penyebab berbagai penyakit.

Obesitas bahkan telah terkait dengan penurunan produksi hormon testosteron yang juga berpengaruh terhadap kemampuan ereksi pria. Testosteron adalah hormon seks utama pada pria dan memainkan peran penting dalam gairah seksual dan fungsi seksual.

Untuk dapat mempertahankan ereksi, penis membutuhkan pasokan darah yang lebih banyak dari biasanya. Pasien hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi dan penyakit jantung, memiliki masalah pada pembuluh darahnya sehingga mempengaruhi aliran darah ke penis.

Satu-satunya cara untuk mencegah ketiga dampak kegemukan pada pria terhadap hubungan seksualnya adalah dengan mengurangi berat badan. Olahraga secara teratur dan menghindari konsumsi makanan berlemak dapat mengurangi risiko obesitas sekaligus meningkatkan kadar testosteron yang dapat meningkatkan kualitas hubungan seksual.

Sumber
»»  BACA SELANJUTNYA

Cuma Gara-gara Jijik, Orang Bisa Kena Gangguan Seksual Langka



Jijik identik dengan hal-hal kotor dan seringkali membuat orang yang merasakannya mual. Tapi siapa sangka jika rasa jijik juga bisa menyebabkan seseorang ogah melakukan hubungan seksual.

Bahkan menurut sebuah studi terbaru, rasa jijik membuat penderita gangguan seksual langka yang disebut dengan vaginismus ini menganggap bahwa penetrasi itu sesuatu yang mustahil dilakukan.

Sebenarnya secara obyektif seks itu adalah aktivitas yang menjijikkan. Bercampurnya cairan saat melakukan kontak dengan bagian tubuh lain seringkali dianggap sebagai hal yang menjijikkan atau tabu. "Dari perspektif itu, cukup mengejutkan bahwa beberapa orang yang tak bisa terlibat dalam hubungan seksual sama sekali," papar peneliti Mark van Overveld dari Erasmus University Rotterdam.

Rasa jijik sendiri adalah salah satu bentuk emosi yang kuat dan tidaklah mudah dikendalikan seperti halnya orang yang muntah ketika melihat orang lain muntah, katanya.

Untuk memperoleh kesimpulan itu, peneliti membuat kuesioner yang spesifik tentang seks dan sebagian besar terfokus pada pertanyaan-pertanyaan seperti seberapa jijik Anda ketika menggandeng tangan orang atau memegang cairan tubuhnya sendiri.

Kuesioner itu diajukan pada 762 mahasiswa dan staf universitas untuk mengukur rasa jijik secara seksual yang dialami orang-orang secara akurat. Selain itu, peneliti juga merekrut 39 wanita penderita vaginismus, 45 wanita penderita dyspareunia atau nyeri ketika berhubungan seksual dan 28 pria penderita disfungsi ereksi untuk mengisi kuesioner yang sama.

Hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, wanita penderita vaginismus lebih cenderung dilaporkan mengalami rasa jijik ketika terpapar hal-hal yang terkontaminasi oleh produk-produk seksual ketimbang partisipan yang sehat atau mengalami gangguan seksual lainnya. "Hal ini menunjukkan peranan rasa jijik dalam rangka membentuk awal mula munculnya gangguan ini sekaligus keberlanjutannya," kata van Overveld seperti dikutip dari Livescience, Kamis (29/11/2012).

Lagipula otot-otot pinggul penderita vaginismus akan berkontraksi dengan sendirinya ketika dipenetrasi. Hal ini seringkali mencegah hubungan seksual secara keseluruhan.

Yang lebih parah lagi adalah bagaimana emosi memainkan peranan penting dalam disfungsi seksual ini. "Rasa jijik itu bisa datang terlebih dulu lalu memicu 'keengganan' pada otot pinggul atau mungkin gangguan seksual sebelumnya berkontribusi memunculkan rasa jijik terhadap proses itu," terang van Overveld.

Tapi bagi van Overveld rasa jijik ini adalah mekanisme pertahanan yang penting dan otot pinggul yang otomatis mengencang bisa dikatakan sebagai refleks seperti halnya muntah.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine ini juga menampik hasil studi sebelumnya yang mengatakan bahwa rasa jijik itu bisa diredam oleh gairah. Nyatanya peneliti menemukan bahkan pada wanita sehat sekalipun, semakin banyak rasa jijik yang dialaminya maka gairah seksualnya akan semakin rendah.

Namun meski rasa jijik itu susah dikontrol, van Overveld mengungkapkan bahwa mempelajari cara untuk menanggulanginya dapat berpotensi membantu wanita penderita vaginismus untuk mengurangi gejala-gejalanya.

Sejumlah terapi terbaru melatih penderita untuk mencoba menyentuh alat kemaluan mereka sendiri dan mengurangi emosi negatif dengan cara yang lebih terkendali, seperti halnya terapi untuk mengobati fobia laba-laba, misalnya.

»»  BACA SELANJUTNYA

Bukan Promosi Kontrasepsi, BKKBN Imbau Remaja Tunda Usia Nikah




 Kehidupan remaja amatlah kompleks. Namun dalam keseharian, justru yang paling banyak terekspos adalah sisi negatifnya seperti seks bebas, kecanduan narkoba dan aborsi. Oleh karena itu, remaja kini menjadi target baru yang akan disasar BKKBN selain pasangan menikah.

"Program BKKBN kini juga akan menargetkan remaja. Bukan pada penggunaan kontrasepsi, namun dengan pendewasaan usia perkawinan. Salah satunya adalah program Generasi Berencana (GenRe) agar remaja bisa merencanakan karir dan pernikahan sesuai dengan siklus kesehatan remaja," kata drs Subagyo, MA, Plt. Kepala BKKBN dalam acara GenRe Action 2012 di Plaza Bapindo, Jakarta, Selasa (27/11/2012).

BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) sebelumnya memang dikenal sebagai badan negara yang bertanggung jawab dalam program pengendalian pertumbuhan jumlah penduduk. Beberapa cara yang ditempuh adalah mempromosikan alat kontrasepsi dan penyuluhan tentang keluarga berencana.

Namun melihat kenyataan bahwa remaja di Indonesia memiliki berbagai masalah yang cukup pelik, maka perencanaan keluarga sejahtera juga mulai dilakukan sejak remaja. Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2010, ada 35 dari 1.000 orang remaja yang sudah pernah melahirkan. Bahkan usia rata-rata perkawinan wanita Indonesia adalah 19 tahun.

"Untuk perempuan sebaiknya menikah setelah umur 21 tahun dan laki-laki setelah 23 tahun karena dari sisi reproduksi, umur tersebut adalah ukuran bahwa seseorang sudah benar-benar sehat untuk hidup berumah tangga. Sedangkan secara psikologis, dia lebih matang," kata Subagyo.

Hasil survei penduduk tahun 2012 menyatakan bahwa 27,6 persen penduduk Indonesia adalah remaja. Sayangnya, data BNN (Badan Narkotika Nasional) menunjukkan bahwa 45 persen pengguna Napza di tahun 2009 adalah mereka yang berusia 16-24 tahun.

Beberapa bukti menunjukkan adanya keterkaitan antara penggunaan Napza dengan perilaku seks bebas di kalangan remaja. Bahkan Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2007 menemukan bahwa 1 persen remaja wanita dan 6 persen remaja pria pernah melakukan seks pranikah.

"Generasi remaja segala sesuatunya harus direncanakan. Remaja harus bebas dari free sex, narkoba dan HIV/AIDS. Remaja masih punya tahapan kehidupan yang panjang seperti meneruskan sekolah, mencari pekerjaan, membangun rumah tangga dan menjadi bagian dari masyarakat," kata Subagyo.

Secara umum, Subagyo menjelaskan bahwa ada beberapa fokus program BKKBN yang telah dipersiapkan untuk menyasar remaja, yaitu:
- Promosi penundaan usia kawin, mengutamakan pendidikan dan berkarya sesuai bidangnya
- Menyediakan informasi mengenai kesehatan reproduksi seluas-luasnya lewat konseling
- Promosi perencanaan kehidupan keluarga sebaik-baiknya, kapan idealnya usia menikah dan punya anak serta berapa jumlah anak yang ideal

»»  BACA SELANJUTNYA