Social Profiles

Minggu, 28 Oktober 2012

Wow, Pasangan Tak Ganteng, Wanita Cenderung Dingin Saat Subur!



Bagi wanita, memilih pasangan hidup harus mempertimbangkan banyak faktor. Ada yang memilih pria mapan, ada juga memilih pria tampan. Pemilihan pendamping hidup ini ternyata dapat berdampak pada perilaku wanita yang khas ketika masa subur.

Wanita yang memilih pria mapan ketimbang yang tampan cenderung menjaga jarak dan kritis kepada pasangan saat sedang subur-suburnya. Namun wanita yang memilih pria tampan atau menarik secara seksual, sikap cerewet dan menyendiri ini tidak ditemukan saat masa subur.

Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa wanita lebih tertarik dan lebih besar kemungkinannya menikah dengan pria yang mapan ketimbang pria yang tampan. Tujuannya untuk memastikan keturunannya aman dan hidup sejahtera. Namun penelitian terbaru menemukan bahwa pilihan ini justru menjadi blunder saat masa-masa penting dalam menghasilkan keturunan.

"Seorang wanita mengevaluasi hubungannya secara berbeda pada waktu yang berbeda pula dalam siklus menstruasinya. Evaluasinya ini tampaknya juga diwarnai oleh seberapa menarikkah dia memandang pasangannya secara seksual," kata peneliti, Martie Haselton, seperti dilansir Medical Daily, Jumat (26/10/2012).

Para peneliti mengamati siklus ovulasi 41 wanita sarjana yang tengah membina hubungan jangka panjang dengan seorang pria. Peserta diminta menilai daya tarik seksual pasangannya. Peserta juga diminta menjawab pertanyaan yang dirancang untuk mengukur stabilitas atau kecocokan pasangan untuk jangka panjang.

Tak hanya itu, kondisi keuangan pasangan saat ini dan di masa depan juga dibandingkan dengan kebanyakan pria. Peneliti kemudian meminta para wanita melaporkan kualitas dan keadaan hubungannya pada 2 periode yang berbeda dalam siklus menstruasinya, yaitu saat tepat menjelang ovulasi di mana kondisinya paling subur dan saat kondisinya kurang subur.

Hasil penelitian yang dimuat jurnal Hormones and Behavior menunjukkan bahwa wanita yang pasangannya kurang tampan atau kurang menarik rata-rata mengaku keintimannya berkurang dan lebih cuek kepada pasangan saat masa subur. Tapi hal sebaliknya justru dialami wanita yang memiliki pasangan yang tampan atau sesuai dengan keinginan seksualnya.

Para peneliti lantas mengulangi percobaan ini kepada 67 orang peserta lain. Kali ini para peserta diminta membuat daftar hal yang menjengkelkan dari pasangan seperti murung, kekanakan dan sembrono. Ternyata wanita yang pasangannya kurang seksi lebih dapat mengenali sifat buruk pasangan ketika sedang subur dibandingkan saat tidak subur.

Para peneliti menduga kecenderungan sifat wanita yang berubah-ubah ini berasal dari strategi kawin akibat proses evolusi. Ada kemungkinan wanita berevolusi untuk tertarik pada ketampanan pria karena dulu terbukti merupakan indikator gen yang baik. Wanita yang tertarik pada fitur ini bisa menghasilkan keturunan yang lebih sukses menarik pasangan dan memperbanyak keturunan.

Namun Haselton yang merupakan seorang profesor psikologi di University of California, Los Angeles ini mengatakan bahwa sifat dingin atau uring-uringan ini hanya bersifat sementara dan tidak mempengaruhi komitmen jangka panjang. Meskipun mungkin menimbulkan sedikit gangguan, hubungan keduanya tak akan berakhir begitu saja.

»»  BACA SELANJUTNYA

1 Dari 6 Pelukan akan Menjurus ke Seks



Berpelukan merupakan tanda keintiman dan kedekatan yang bisa dilakukan antar pasangan, teman, maupun orang tua dengan anaknya. Pada pasangan, pelukan yang mesra lama-lama dapat mengarah ke aktivitas seksual. Namun kemungkinannya tidak begitu besar, hanya 1 dari 6 pelukan yang lantas mengarah ke seks.

Bagi pasangan suami istri, bisa jadi ini kabar yang cukup mengecewakan sebab kemungkinannya beranjak ke adegan intim cukup kecil. Sedangkan bagi pasangan belum menikah, ada baiknya mulai menghindari berpelukan sebab tindakan ini dapat menjurus ke seks pra nikah yang berisiko.

Para peneliti menemukan bahwa kegiatan berpelukan cenderung digunakan sebagai sesi curhat atau membahas kejadian di hari sebelumnya. Keintiman yang muncul akibat memegang pasangan erat-erat bermanfaat untuk memperkuat ikatan. Bahkan peneliti menemukan bahwa pasangan yang sering berpelukan kehidupan seksnya lebih baik.

Dalam laporan yang diterbitkan jurnal Archives of Sexual Behavior, peneliti menemukan bahwa rata-rata pasangan melakukan pelukan sebanyak 8 kali dalam seminggu. Setiap aktivitas pelukan berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Tempat yang paling sering digunakan untuk berpelukan adalah sofa, kursi dan tempat tidur. Wanita cenderung lebih suka dipeluk ketimbang pria.

Para peneliti dari University of Michigan menanyai 514 orang pria dan wanita yang sedang menjalin hubungan asmara mengenai seberapa sering, seberapa lama dan bagaimana caranya kedua pasangan bisa sampai berpelukan. Para peserta juga ditanya tentang apa yang dilakukan ketika berpelukan dan kapan waktunya.

Berpelukan oleh peneliti didefinisikan sebagai kontak fisik yang penuh kasih tanpa melibatkan perilaku seksual dan bagian tubuh yang tersentuh lebih banyak, bukan hanya tangan atau bibir saja. Temuan menunjukkan bahwa rata-rata peserta berpelukan selama 47 menit 36 detik. Malam adalah waktu favorit yang paling banyak digunakan untuk berpelukan.

Peneliti juga menemukan bahwa pasangan paling sering berpelukan sambil menonton film atau TV. Aktivitas selingan favorit lainnya adalah mengobrol, memijat, mendengarkan musik atau membaca. Di antara seluruh peserta penelitian, hanya ada 1 dari 6 peserta yang mengaku kegiatan pelukannya kemudian diikuti oleh aktivitas seks.

Kesemua peserta merasa diayomi, dilindungi dan rileks setelah berpelukan. Peserta juga jarang menyebutkan seks ketika ditanya apa yang dirasakan atau diinginkan selama berpelukan. Yang paling banyak dirasakan adalah berbicara mengenai kedekatan, cinta, keintiman dan kenyamanan.

"Data ini mendukung harapan kami bahwa memeluk dianggap sebagai perilaku mengayomi dan non seksual. Peserta mengaku merasa terlindungi dan rileks setelah berpelukan. Mereka jarang membicarakan hal mengenai seks selama berpelukan, tapi malah merasakan hal-hal seperti cinta, keintiman, kedekatan, dan kenyamanan," kata peneliti Dr Sari van Anders seperti dikutip dari Medical Daily

»»  BACA SELANJUTNYA

5 Hal Seputar Kanker Payudara yang Kerap Disalahpahami



Kanker payudara tidak hanya menyerang kaum perempuan, tetapi juga kaum laki-laki. Karena itu tidak ada salahnya jika perempuan dan laki-laki sama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Apalagi banyak mitos dan kesalahpahaman seputar kanker payudara.

Dr Ann Chambers, peneliti asal kanada yang juga profesor onkologi di University of Western Ontario menjelaskan lima hal yang kerap disalahpahami masyarakat terkait kanker payudara. Berikut ini kelima hal tersebut, seperti dikutip dari ctvnews.ca pada Selasa (22/10/2012):

1. Risko kanker payudara tak dipengaruhi jumlah anak yang dimiliki

"Sejarah reproduksi seorang wanita berhubungan yang sangat kuat dengan risikonya terkena kanker payudara," kata Dr Chambers kepada CTV News Channel.

Jika seorang perempuan memiliki anak saat masih muda, maka risiko terkena kanker payudaranya kecil. Namun bagi yang tidak memiliki anak, risiko terkena kanker payudara masih menghantui.

"Jika Anda menyusui untuk waktu yang lama, risiko Anda lebih rendah. Jadi itu adalah situasi hormonal yang kompleks," ujar Dr Chambers.

2. Berat badan mempengaruhi risiko penyakit jantung, bukan risiko kanker payudara

Obesitas memang kerap dikaitkan dengan penyakit jantung dan diabetes. Selain itu obesitas juga ditengarai berkaitan dengan berbagai penyakit kanker, termasuk kanker payudara.

"Menjaga berat badan yang sehat, makan makanan yang sehat dan berolahraga adalah semua hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko," ucap Dr Chambers.

3. Jika mammogram saya bersih, maka saya baik-baik saja

Mammogram atau rontgen payudara masih dipercaya sebagai cara terbaik untuk mendeteksi dini sel kanker payudara. Namun ada baiknya Anda juga memeriksa kondisi payudara Anda sendiri, sebab bukan tidak mungkin mammogram tidak bisa mendeteksi kanker karena berkembang di antara jadwal pemeriksaan mammogram.

4. Mengonsumsi kedelai meningkatkan risiko kanker payudara

"Ada bukti kedelai bisa meningkatkan atau menurunkan risiko kanker payudara," ucap Dr Chambers.

Namun bukti yang ada kurang kuat untuk mendukung seseorang mengonsumsi kedelai demi menghindari kanker payudara. Pun tidak ada bukti kuat yang merekomendasikan seseorang untuk tidak makan kedelai demi kesehatan payudaranya. Tetapi makan kedelai dalam jumlah yang tidak berlebihan tidak akan memberikan dampak.

5. Didiagnosa kanker payudara sama artinya divonis mati

"Sejak 1980-an, kematian akibat kanker payudara menurun sekitar 40 persen," kata Dr Chambers.

Menurut dia hal ini karena dua faktor. Pertama, skrining mammografi telah menemukan adanya tumor yang bersarang di payudara sejak dini, sehingga bisa segera diobati. Kedua, karena penanganan yang baik.

"Ketika sel kanker sudah menyebar di luar kelenjar getah bening ke organ lain, maka akan lebih sulit untuk mengobatinya," sambung Dr Chambers.

»»  BACA SELANJUTNYA

Ternyata Di Bawah Kulit Jeruk Banyak Anti Kanker!



Kebanyakan orang biasanya akan membersihkan jeruk dari serabut dan daging kulit yang berwarna putih sebelum memakannya agar lebih terasa manis. Tetapi bagian yang Anda singkirkan tersebut justru memiliki manfaat super untuk mencegah obesitas dan bahkan kanker.

Jeruk dikenal sebagai buah yang kaya akan nutrisi sehat seperti vitamin C dan berdasarkan penelitian terbaru, jeruk juga mengandung senyawa flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu substansi antioksidan kuat dan dapat melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas penyebab kanker.

Meskipun buah jeruk itu sendiri telah mengandung flavonoid, tetapi konsentrasi flavonoid tertinggi terkandung dalam kulitnya. Anda dapat memperoleh kadar tinggi antioksidan dari jeruk dengan menambahkan kulit jeruk ke dalam bumbu masakan.

Anda masih dapat memperoleh kadar tinggi flavonoid dengan menyisakan sedikit daging putih dalam kulit jeruk ketika mengupasnya dan tidak membersihkan serabut-serabut putih yang menyelimuti buah jeruk.

Salah satu zat yang paling bermanfaat dalam senyawa flavonoid adalah naringenin, yang terdapat dalam semua buah jeruk dan tomat. Penelitian telah menunjukkan bahwa naringenin pada jeruk dapat memperbaiki kerusakan DNA yang dapat berkembang menjadi kanker.

Studi lainnya juga telah menunjukkan bahwa fitonutrisi seperti naringenin dalam jeruk dapat merangsang pembakaran lemak yang berlebih. Studi tersebut menggunakan tikus sebagai obyek penelitian dan tikus yang obesitas dapat kembali ke berat badan normalnya setelah diberi asupan naringenin.

Seperti dilansir dari naturalnews, Kamis (18/10/2012) naringenin juga menyebabkan trigliserida dalam jeruk berada pada tingkat normal, sehingga dapat memulihkan kadar gula darah yang sehat.

Ada manfaat obat dalam setiap buah jeruk, sehingga nikmatilah buah sehat ini tanpa mengupas bersih kulit dan serabutnya.

»»  BACA SELANJUTNYA

Aborsi Bikin Peluang Kanker Payudara Meningkat?



Ada berbagai faktor yang dapat meningkatkan peluang risiko kanker payudara, salah satunya genetik dan gaya hidup yang tak sehat. Tapi sebuah studi menyebutkan bahwa aborsi atau pengguguran kehamilan juga dapat membuat perempuan dikejar risiko kanker payudara.

Kanker payudara merupakan masalah kesehatan yang kasusnya terus meningkat di seluruh dunia. Untuk menyebarkan kesadaran tentang penyakit berbahaya ini, perempuan di seluruh dunia pun mengenakan pita merah muda sepanjang bulan Oktober.

Ada dua jenis kanker payudara, yaitu Ductal carcinoma yang dimulai dalam tabung (saluran) dan Lobular carcinoma yang dimulai di bagian payudara (lobules). Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari usia, riwayat keluarga, siklus menstruasi yang tidak tepat, konsumsi alkohol yang berlebihan.

Hipotesis Abortion Breast Cancer (ABC) mengemukakan bahwa aborsi juga dapat menyebabkan kanker payudara. Ini karena ketika seorang wanita hamil, produksi estrogen (hormon wanita) meningkat. Peningkatan kadar estrogen inilah yang menyebabkan payudara semakin membesar. Proses laktasi dimulai dan ASI pun mulai terbentuk di payudara.

Namun jika Anda 'membatalkan' proses tersebut pada tahap pengembangan dengan jalan aborsi, penelitian mengatakan bahwa kemungkinan menderita kanker payudara semakin meningkat, seperti dilansir Boldsky, Senin (22/10/2012).

Dalam kasus-kasus terburuk, jika Anda melakukan aborsi pada trimester kedua atau ketiga, kemungkinan terkena kanker payudara menjadi lebih tinggi. Banyak peneliti dan studi sepakat dengan hipotesis aborsi dan kanker payudara ini.

Namun, sebuah studi pada tahun 1997 dalam New England Journal of Medicine membantah ABC dan melakukan survei terbesar pada kanker payudara. Dengan 1,5 juta peserta, New England Journal of Medicine berkesimpulan bahwa tidak ada hubungan independen antara kanker payudara dan aborsi.

Terlepas dari benar tidaknya hipotesis tersebut, setiap perempuan memang berisiko menderita kanker payudara bila menjalani pola hidup yang tidak sehat. Ancaman tersebut bahkan juga merembet pada kaum pria.

Saat ini kanker payudara masih menempati urutan kedua terbanyak yang diderita oleh kaum perempuan setelah kanker serviks (leher rahim). Karena itu penting bagi perempuan untuk bisa mengenali lebih dini ciri-ciri dari kanker payudara, sehingga jika ditemukan dalam stadium awal kesempatan untuk sembuhnya masih tinggi.

Salah satu cara untuk deteksi awal kanker payudara adalah dengan melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) yang dilakukan seminggu setelah menstruasi.

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) adalah melakukan beberapa hal berikut:

1. Perhatikan payudara dengan posisi kedua tangan di atas kepala kemudian kedua tangan di pinggang.

2. Angkat tangan kiri ke atas kepala.

3. Gunakan permukaan jari yang rata untuk meraba atau menekan payudara serta pastikan untuk menyentuh seluruh bagian payudara. Pola yang digunakan bisa dengan gerakan arah memutar, gerakan arah naik dan turun atau arah keluar dan masuk area putting. Usahakan menggunakan gerakan yang sama setiap bulannya.

4. Menekan setiap puting dengan lembut dan memperhatikan apakah ada cairan yang keluar.

5. Memeriksa daerah antara payudara dan ketiak serta payudara dan tulang dada sambil berbaring.

6. Mengulangi semua langkah tersebut untuk payudara yang sebelah kanan.

»»  BACA SELANJUTNYA

Sabtu, 27 Oktober 2012

Hobi Pria Bisa Tunjukkan Aksi Mereka Saat Bercinta



Apa hobi pasangan Anda? Ternyata, kesukaan pria melakukan suatu hal yang berlangsung terus-menerus bisa menunjukkan gairah seks mereka. Kegiatan fisik tersebut akan mempengaruhi libido pria. Maka dari itu, bila ingin tahu hasrat seksual pasangan, ketahui hobi mereka. Ini lima aktivitas yang menunjukkan kecenderungan libido pria dan aksi mereka saat di ranjang, dilansir dari iDiva.

1. Mengutak-atik Alat Elektronik/ Kerajinan Tangan
Bila memiliki pasangan yang kreatif, biasanya Anda sulit menebak apa yang ingin dia lakukan sebelum bercinta. Penelitian membuktikan bahwa pria pintar dan terampil mempunyai gairah seks yang kuat. Pasangan ingin dihargai serta merasa unggul ketika berhubungan intim sehingga dia akan memastikan bahwa Anda puas.

2. Menari
Pria dengan hobi dance atau menari merupakan pria yang cukup percaya diri dalam menunjukkan kemampuan serta penampilannya. Menurut George Bernard Shaw, jika dia bisa menari sesuai dengan hentakan musik, dia pasti juga bisa memaksimalkan aksi intimnya bersama Anda. Tidak hanya itu, pasangan juga akan mengendalikan permainan mereka serta membahagiakan Anda.

3. Masak
"Anda bisa menarik perhatian pria dengan masakan Anda," ujar Fanny Fern, salah satu penulis di Amerika. Namun ternyata, hal tersebut juga berlaku pada wanita. Menurut Urban Dictionary, orang-orang yang mempunyai hobi memasak cukup pintar melakukan beberapa tindakan di tempat tidur. Mereka adalah sang perfeksionis yang akan memperlakukan Anda dengan lembut ketika berhubungan intim.

4. Balap Mobil
Pria yang hobi balapan cenderung tidak sabaran dan cepat marah. Mereka biasanya posesif, tapi tidak seperti itu saat melakukan aksi intim. "Saat bercinta, mereka ingin melakukannya secara perlahan dan menikmati waktu yang cukup panjang," papar Dr. Samir Parikh, dokter dari Mental Health and Behavioural Sciences, Fortis Healthcare.

5. Olahraga
Pasangan senang berolahraga? Mungkin tidak hanya aktivitas fisik saja, tapi juga hobi menonton tim kesukaannya ketika berkompetisi. Hal ini jelas menunjukkan kalau pasangan suka sensasi serta kegiatan yang memacu adrenalin. Untuk urusan seks, pria yang hobi olahraga akan mudah terangsang dan selalu ingin melakukan sesuatu yang baru. Dengan begitu, kehidupan seks Anda akan lebih bervariasi.

»»  BACA SELANJUTNYA

1/3 Wanita Bercinta 3 Kali Seminggu Setelah Berusia 35 Tahun



Penelitian sebelumnya mengungkapkan wanita mencapai puncak seksualitas di usia 28 tahun. Namun riset terbaru yang diadakan di Inggris menunjukkan data baru. Kini puncak seksualitas dicapai di usia 35 tahun.

Penelitian tersebut dibuat oleh brand sex toys Lovehoney. Riset melibatkan 2.100 responden berusia 18-65 tahun. Lovehoney membuat riset itu dengan tujuan untuk mengetahui seberapa puas orang dengan kehidupan seks mereka, seberapa sering mereka bercinta dan bagaimana usia mempengaruhi libido seseorang.

Setelah diteliti diketahui, wanita memiliki gairah seks paling tinggi di antara usia 35-44 tahun. Jika diminta memberikan penilaian 1-10, 17% responden wanita memberikan nilai 10 pada libido mereka.

Seperti dikutip Daily Mail, sesuai survei, lebih dari 1/3 wanita berusia 35-44 tahun jadi lebih sering bercinta ketimbang sebelum mencapai umur tersebut. Kini mereka bercinta dua hingga tiga kali seminggu. Bahkan 20% wanita di kelompok usia tersebut ada yang bercinta empat sampai lima kali seminggu.

"Banyak wanita merasa tingkat gairah mereka meningkat seiring pertambahan usia dan biasanya puncaknya terjadi di pertengahan usia 30-an hingga 40-an," ujar pakar seks dan percintaan Julie Peasgood.

Julie menambahkan, hasil survei ini juga menunjukkan wanita yang berusia 30-an hingga 40-an dan sudah menikah lama, biasanya lebih mengenali tubuhnya. Wanita-wanita ini juga tahu bagaimana memenuhi kebutuhan seks dirinya dan pasangannya.

Survei Lovehoney juga menunjukkan lebih dari 3/4 wanita dalam kelompok usia 35-44 tahun sangat puas pada kehidupan seks mereka. Kepuasaan pada aktivitas bercinta ini salah satunya rupanya dipengaruhi kehadiran novel erotis 'Fifty Shades of Grey'. 47% responden mengatakan novel tersebut benar-benar mempengaruhi kehidupan seks mereka.

"Menurutku kepopuleran Fifty Shades of Grey menunjukkan adanya keinginan bercinta khususnya pada wanita yang sudah semakin matang dan membuat wanita merasa lebih terhubung dengan seksualitasnya," komentar Julie lagi.

Kehadiran Fifty Shades of Grey ini memang terbukti membawa dampak positif pada kehidupan seks. Survei sebelumnya yang dibuat oleh situs Netmums dan melibatkan 2.183 responden wanita juga menunjukkan hasil serupa. Rata-rata wanita sebelum membaca novel karya E.L. James itu bercinta satu minggu sekali. Namun setelah menyelesaikan novel trilogi itu, aktivitas seks jadi tiga kali seminggu dilakukan.

Dampak novel tersebut pada satu dari delapan wanita menjadi lebih dahsyat. Satu dari delapan wanita mengaku mereka jadi bercinta setiap hari setelah membaca 'Fifty Shades of Grey'.

»»  BACA SELANJUTNYA